1/01/2013

petunjuk pemekaian pestisida


Satu
PESTISIDA DAN
PERLINDUNGAN TANAMAN



Begitu melekatnya pestisida dalam benak para petani dan praktisi pertanian, sehingga ketika terjadi serangan hama dan penyakit pada tananam yangdi usahakan, pikiran mereka langsung  tertuju pada pertannyaan ,”pestisida apa yang harus disemprotkan?” mereka tidak sempat lagi memikirkan penyebab serangan, ada tidaknya kesalahan dalam mengelola tanaman sehingga terjadinya serangan, atau pertanyaan lain yang membuka kemungkinan mencari alternative pengendalian hama selain pestisida.

            Sebenarnya keberadaan hama dan penyakit tanaman yang disebut organisme pengganggu tanaman (OPT) pada areal pertanian merupakan akibat ulah manusia. Perubahan ekosistem hutan menjadi areal pertanian adalah salah satu penyebab utama. Dalam ekosistem hutan, setiap rantai makanan berada dalam keadaan normal. Setiap organisme berada dalam jumlah yang seimbang dengan organisme lain yang menjadi musuh atau pemangsanya, sehingga tidak ditemui organisme telah merusak keseimbangan tersebut, di antaranya terjadi pemutusan beberapa rantai makanan. Contohnya adalah menurunya populasi unggas yang merupakan pemangsa belalang akibat penebangan pohon dengan menyebabkan peningkatan populasi belalang. Peningkatan ini tentunya diikuti oleh meningkatnya kebutuhan bahan makanan. Tidak ada jalan lain, belalang mencari makanan di areal pertanian sehingga menjadi hama tanaman.

            Dengan kerangka pemiran tersebut OPT dapat diartikan sebagai organisme yang jumlahnya tidak seimbang dengan pemangsa (musuh alami) di dalam rantai makananya, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebagai ilustrasi, beberapa ekor belalang pada suatu daerah pertanian belum dapat di katakan sebagai hama jika jumlahnya masih dapat dikendalikan oleh musuh alaminya, seperti unggas. Di samping itu, kerusakan yang ditimbulkan, secara ekonomi tidak begitu berarti.

            Dalam merumuskan OPT dikenal istilah ambang ekonomi hama, yaitu batasan jumlah tertentu dari populasi OPT yang cukup membuat kerusakan tanaman dan secara ekonomi mulai merugikan. Nilai ambang ekonomi ini menjadi garis pemisah antara OPT dan OPT yang dikendalikan. Tindakan pengendalian OPT perlu di lakukan hanya jika OPT mulai bergerak di atas nilai ambang ekonomi tersebut.

            OPT dikelompok menjadi tiga golongan. Pertama, hama atau binatang perusak tanaman, seperti serangga, moluska, dan mamalia. Kedua, penyakit yang di sebabkan oleh jasad mikro,seperti jamur, bakteri , dan virus. Ketiga, gulma, yaitu tumbuhan yang tidak diharapkan tumbuh, sehinggga bersaing dengan tanaman utama. Gulma sering disebut sebagai tumbuhan salah tempat. Berdasarkan tiga golongan ini, OPT sering disebut sebagai HPG (Hama, Penyakit, dan Gulma).

            Tindakan pengendalian OPT dikenal sejak manusia bercocok tanam. Pengendalian hama adalah tindakan pengendalian yang paling awal dikenal manusia dengan mengusir hama melalui tindakan fisik, seperti pengasapan. Sementara itu, kerusakan akibat penyakit baru diketahui penyebabnya setelah abad ke-19. Sebelumnya, kerusakan yang disebabkan oleh penyakit tidak diketahui dan selalu dikaitkan dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Pada awal abad ke-19, ilmu penyakit tanaman mulai berkembang pesat dan memberikan  teori yang benar tentang jamur sebagai salah satu penyebab kerusakan tanaman. Terobosan terlbesar terjadi psda tahun 1874 ditemukan DDT (dikloro difenil trikloroetana) sbagai insektisida oleh Zeidler seorang sarjana kimia dari jerman. Kemudian pada tahun 1882 mulai digunakan bubuk bordeoux (campuran Cu So4 dan kapur) sebagai fungisida. Kedua penemuan ini sangat efektif dalam membantu petani untuk mengatasi masaalah serangan OPT, sehingga dimulailah produksi pestisida secara besar-besaran. Pada tahun 1930-an pestisida komersial diperdagangkan di Amerika.

            Penemuan bubuk bordeoux dan DDT merupakan sumbangan yang sangat berarti dalam dunia pertanian. Penemuan tersebut telah mengantar sektor pertanian menuju terjadinya Green Revolution. Peningkatan hasil panen dan pendapatan petani secara signifikan. Kemiskinan dan kelaparan diberbagai belahan dunia secara perlahan teratasi dan mendorong swasembada pangan diberbagai Negara, termasuk Indonesia. Setelah keberhasilan itu, berbagai upaya dilakukan secara intansif untuk menemukan racun-racun kimia yang lain untuk mengendalikan OPT.

            Hingga saat ini, pestisida kimiawi masih dianggap satu-satunya senjata pamungkas untuk menghadapi serangan OPT. Banyak merek dan jenis pestisida yang beredar dipasaran dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan. Pada tahun 1984 Indonesia menguasai 20% dari pangsa pasar pestisida dunia. Dalam periode 1982 – 1987 terjadi peningkatan jumlah pemakaian pestisida sebesar 236% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Khusus untuk insektisida, peningkatannya mencapai 710% 1.723 ton, yang berarti setiap hektar lahan pertanian menggunakan 1,69kg insektisida (Reza dan Gayatri, 1994). Pada tahun 2000, pestisida yang terdaftar Pada Komisi Pestisida Departemen Pertanian Republik Indonesia telah mencapai 594 merek dagang.

            Walaupun para petani dan praktisi pertanian sudah sangat akrab dan tingkat keuntungannya yang tinggi terhadap pestisida, ternyata masih banyak sekali kesalahan yang terjadi dilapangan. Pengetahuan dasar tentang cara pemakaian pestisida yang benar ternyata masih sangat kurang. Sering terdengar berita, petani menggunakan satu pestisida hanya karena mengikuti petani lain yang telah menggunakannya, tanpa mengetahui persis kegunaan dan cara pemakaiannya. Pencampuran pestisida adalah hal yang biasa dilakukan oleh petani dengan alasan jika hanya menggunakan satu jenis pestisida, tidak efektif untuk mengendalikan hama. Hal ini dilakukan tanpa mempertimbangkan pestisida tersebut boleh dicampurkan atau tidak. Tidak sedikit pula perusahaan agrobisnis yang sangat fanatik dengan satu merek pestisida, meningkatkan konsentrasi insektisda hingga jauh diatas saran  yang tertera pada labelnya. Alasannya, pada konsentrasi rendah pestisida tidak lagi efektif untuk membunuh hama. Pemakaian pestisida yang benar ternyata tidak semudah yang di bayangkan, sehingga pengetahuan dasar tentang hama penyakit dan cara pemakaian pestisida wajib dimiliki setiap pengguna pestisida.

            Peristiwa pahit telah terjadi dalam sejarah pertanian di Indonesia. Pada tahun 1976-1977 serangan hama wereng diperkirakan telah menyerang 1 juta hektar tanaman padi,terutama di pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. Jutaan ton beras gagal dipanen. Padahal saat itu usaha penyemprotan insektisida sudah sangat intensif dan sampai dilakukan beberapa kali dalam seminggu, bahkan penyemprotan dari udara pun sudah dilakukan. Meskipun demikian,hama wereng tetap berkembang. Ironisnya, 5 tahun sebelumnya wereng bukanlah perusak tanaman padi.

Pestisida merupakan sarana produksi dengan harga yang sangat mahal, sehingga penggunaanya harus seefisien dan setepat mungkin, baik dari segi jenis, dosis pestisida, maupun cara dan waktu pemakaiannya. Pemakaian pestisida sembarangan bukan saja memboroskan biaya produksi, melainkan menimbulkan dampak sampingan yang merugikan seperti dibawah ini.

  1. Pencemaran air dan tanah yang akhirnya akan kembali lagi ke manusia dan mahluk hidup lainnya, dalam bentuk makanan dan air minum yang tercemar.
  2. Matinya musuh alami. Setiap organisme dialam mempunyai musuh alami (predator) yamg akan mengendalikan populasinya. Jika musuh alami musnah, akan terjadi peningkatan populasi yang menyebabkan organisme tersebut menjadi hama (resurgensi hama) dengan tinkat serangan yang jauh lebih besar dari yang terjadi sebelumnya.
  3. Kematian organisme bukan sasaran,padahal organisme in merupakan predator OPT jenis lainnya. Dengan begitu, kemungkinan terjadi serangan OPT jenis lain (hama sekunder) akan meningkat. Contohnya, penyemprotan insektisida dengan konsentrasi yang sangat tinggi untuk membasmi ulat grayak bias saja membunuh serangga lain, seperti belalang sembah yang merupakan pemangsa kutu daun (dalam hal ini kutu daun adalh hama sekunder). Pemakaian pestisida dengan konsentrasi tinggi selain akan menghabiskan hama ulat grayak, akan mematikan belalang sembah,sehingga setelah ulat grayak habis,tanaman kemungkinan besar akan diserang hama kutu daun.
  4. Kematian organisme yang menguntungkan, seperti lebah yang sangat berperan dalam proses penyerbukan bunga.
  5. Timbulnya kekebalan OPT terhadap pestisida. Hal ini disebabkan  perkawinan OPT yang tersisa setelah penyemprotan pestisida akan menghasilkan keturunan yang kebal terhadap pestisida tertentu, karena telah menjadi perubahan-perubahan genetik

Bagaimanapun pestisida adalah racun yang sangat berbahaya bagi manusia. Karenanya, factor keamanan dalam memakai peestisida perlu mendapatkan prioritas. Sangat disayangkan, di Indonesia kesadaran akan keselamatan kerja bagi pengguna pestisida masih sangat rendah. Barangkali hal ini disebabkan dampak keracunan pestisida baru akan terlihat dalam jangka panjang. Data yang dikumpulkan WHO menunjukan 500.000 hingga 1.000.000 orang pertahun di seluruh dunia telah mengalami keracunan pestisida. Sekitar 5.000 – 10.000 orang per tahun diantaranya mengalami dampak yang sangat fatal,seperti kanker, cacat, kemandulan, dan liver. Pesticide Action Network (PAN) melaporkan bahwa seluruh pekerja wanita pada sebuah perkebunan di Malaysia telah mengidap penyakit kulit akibat sering bersentuhan dengan pestisida (Surabaya Pos, 14 April 1994).

Untuk menghindari dampak buruk dan ketergantungan pemakaian pestisida, pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 3 tahun 1986 telah melarang pemakaian 57 jenis pestisida, karena lebih sering mengakibatkan keracunan dan pencemaran. Selain itu, pemerintah mempopulerkan kembali suatu konsep yang disebut sebagai pengendali hama terpadu (PHT) atau intregated pest management (IPM).  Konsep ini lebih menekan pada tanaman yang diusahakan dan bukan pada OPT. Dalam perapan PHT , pestida hanya di gunakan dalam batas-batas tertentu sebagai alternative terakhir dengan memprioritaskan keselamatan pekerja dan lngkungan sekitarnya.



                                                                        ***

Dua
PENGENDALIAN HAMA
TERPADU (PHT)



A.               Strategi Penerapan PHT


Pengertian PHT sangat beragam, tergantung dari tingkat pemahaman seseorang tentang ekosistem budi daya tanaman. PHT integrated pest management (IPM) merupakan cara   pengelolaan pertanian dengan setiap keputusan dan tindakan yang diambil selalu bertujuan meminimalisasi serangan OPT, sekaligus mengurangi bahaya yang ditimbulkannya terhadap manusia, tanaman, dan lingkungan. Pada PHT dapat dikatakan berhasil jika populasi OPT selalu berada di bawah ambang ekonomi, diikuti dengan peningkatan hasil panen dan penurunan biaya produksi, serta semakin kecilnya dampak buruk terhadap manusia dan  lingkungan.

            Dalam pelaksanakan PHT setiap sumber daya yang ada digunakan semaksimal mungkin untuk mencegah OPT mencapai jumlah yang secara ekonomi merugikan. Konsep PHT disusun berdasarkan prinsip-prinsip ekologi, seperti rantai makanan. Hubungan timbal balik antar tanaman dan OPT, OPT dan pemangsanya, tanaman dan lingkungan fisiknya (misalnya cuaca dan tanah),serta OPT dengan linkungan fisiknya sangat diperhatikan.

            Arti ambang ekonomi dalam konsep ini sangat penting. Tindakan pengendalian OPT baru dilakukan jika kerusakan yang disebabkan oleh OPT telah melewati ambang ekonomi. Pada tingkat serangan OPT yang ditunjukan oleh nilai ambang ekonomi (Tabel 1), biaya yang dibutuhkan untuk mengendalikan OPT masih lebih kecil daripada potensi kerusakan tanaman yang disebabkan oleh jenis OPT tersebut. Penerapan PHT tidak bertujuan untuk menghabiskan populasi OPT,karena pada dasarnya OPT selalu ada dilahan pertanian. Jika kondisi lingkungan menguntungkan bagi OPT,OPT dapat berkembang cepat sehingga melewati ambang ekonomi. Dalam kondisi ini diperlukan suatu tindakan pengendalian yang bertujuan menekan kembali populasi OPT hingga dibawah batas ambang ekonominya.

            PHT merupakan koreksi penggunaan pestisida yang dahulu dijadiakan satu-satunya andalan dalam pengendalian hama. Pada konsep ini pestisida dalam batas-batas tertentu hanya digunakan sebagai alternative terakhir. Pestisida merupakan salah satu komponem pengendalian hama dalam PHT yang digunakan dalam keadan terpaksa dengan cara yang sangat berhati-hati. Komponem-komponem lainnya adalah cara-cara budi daya, misalnya benih unggul yang tahan terhadap serangan OPT danrotasi tanaman;cara fisik,seperti pengumpulan hama dan eradikasi;cara biologis,seperti introduksi musuh alami;dan cara lainnya yang layak diterapkan akan lebih mendapat prioritas. Komponem-komponem tersebut tidak berdri sendiri,tetapi meruoakan suatu kesatuan yang saling mendukung satu sama lainnya (efek sinergis).

            Laporan keberhasilan dalam penerapan PHT menunjukan penurunan dratis dari pemakaian pestisida kimiawi yang diikuti peningkatan hasil yang signifikan. Petani kentang dan kubis di Lembang, Jawa Barat, yang telah menerapkan PHT mampu menghemat pemakaian pestisida hingga 62-80% dan hasil panen meningkat 16% untuk kubis dan hingga 24% untuk kentang (Neraca, 7 September 1994). Petani bawang merah di Brebes, Jawa Tengah setelah menerapkan PHT mampu mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida dari 20 kali semusim menjadi 4 kali saja. Jadi, program PHT bukan program yang anti-pestisida, melainkan pestisida digunakan secara terpadu dengan cara lainnya untuk mendapatkan hasil yang optimal.

            Pengetahuan para praktis pertanian tentang PHT, budi daya tanaman, dan interaksinya dengan factor-faktor lingkungan merupakan kunci keberhasilan penerapan PHT. Pengetahuan tentang OPT yang dibutuhkan antara lain pengenalan gejalah awal, identifikasi jenis-jenis OPT yang spesifik,siklus hidup OPT , dan bagaimana interaksinya dangan linkungan fisik. Contohnya, musim panas yang panjang akan menyebabkan perkembangan serangga lebih cepat, sedangkan pada musim hujan serangan penyakit jamur dan bakteri akan meningkat. Dari pengetahuan dasar tersebut dapat ditentukan waktu dan bentuk tindakan yang harus dilakukan.

            Pengetahuan tentang budi daya tanaman yang dibutuhkan antara lain pemupukan yang tepat, pengolahan tanah, pemilihan benih dan bibit unggul, pemangkasan dan lainnya, diperlukan untuk mendapatkan tanaman dengan pertumbuhann optimal. PHT tidak akan berhasil tanpa program budi daya yang baik dan benar. Tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap serangan OPT dan lebih cepat sembuh setelah terjadi serangan hama dan penyakit. Telah lama diketahui bahwa praktek budi daya yang dilakukan dilapagan mempengaruhi keberadaan suatu penyakit atau hama tertentu dan berpengaruh pula terhadap besar kecilnya tingkat serangan. Contohnya, jika pupuk nitrogen ditebarkan sampai pada batas tertentu, pertumbuhan tanaman akan meningkat. Peningkatan pupuk N ini jika tidak diikuti dengan aspek budi daya lainnya akan berpengaruh buruk, karena peningkatan N akan meningkatkan pengambilan air. Jika peningkatan kebutuhan air tidak dapat terpenuhi, akan menyebabkan tanaman stress dan mudah terserang penyakit.

B.   Tahap Pelaksanaan PHT

Pelaksanaan PHT merupakan siklus yang terjadi secara terus-menerus selama kegiatan pertanian dilakukan dengan sangat mengandalkan pada kegiatan monitoring (inspeksi lapangan).

















a.      Pengumpulan data sejarah lahan

Data sejarah lahan merupakan sumber informasi yang sangat berharga dalam pelaksanaan PHT. Data yang diperlukan, seperti jenis tanaman yang telah ditanam sebelumnya, thenik budi daya yang telah dilakukan, serangan OPT yang pernah terjadi, tindakan pengedalian OPT yang pernah dilakukan, keadaan iklim, dan data lainnya yang berpengaruh terhadap kegiatan budi daya.

b.      Inpeksi Lapangan
Inpeksi lapangan selain bertujuan luntuk memantau pertumbuhan tanaman dan hasil dari thedkni busi daya yang tdelajhl dilakukan ,juga bertujuan untuk memantau perkembangan OPT. Semakin teratur dan sering kegiatan ini dilaksanakan, semakin baik hasilnya. Berikut dua hal yang perlu dilakukan dalam memantau perkembangan OPT.

1.      Diagnosis Penyakit
            Diagnosis mengenai penyakit OPT yang menyerang dan menyebabkan kerusakan pada tanaman dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala-gejala penyakit yang ditunjukan tanaman. Gejala-gejala yang ditimbulkan biasa khas untuk setiap jenis hama penyakit. Selanjutnya, hasil diagnosis deapat digunakan untuk menentukan tindakan pengendalian yang harus dilakukan, karena setiap jenis OPT memerlukan tindakan pengendalian  yang berbeda. Diagnosis yang tepat akan menuju pada tindakan pengendalian yang tepat, dan mencegah tindakan yang tidak diperlukan, begitu pula sebaliknya.

            Hasil diagnosis sedapat mungkin secara spesifik dapat menunjukan spesies yang menyebabkan kerusakan tanaman. Untuk OPT yang sulit didiagnosis, dapat dilakukan analisis di laboratorium. Dapat di manfaatkan laboratorium di perguruan tinggi atau balai penelitian tanaman. Misalnya, laboratorium di Jurusan Hama Penyakit Tanaman IPB yang lebih dikenal dengan nama “Klinik Tanaman”. Caranya dengan mengirimkan contoh tanaman yang terserang penyakit, kemudian klinik tanaman akan memberikan kesimpulan penyebab penyakit tersebut. Untuk tujuan praktikal,gejala tanaman dibawah ini dapat menjadi petunjuk untuk mencari penyebab golongan OPT yang menyebabkan kerusakan tanaman.

-          Kerusakan fisik pada organ tanaman, seperti daun berlubang atau ranting patah disebabkan serangan hama yang dapat diatasi dengan insektisida.
-          Jika terdapat organ yang membusuk dengan benang-benang halus yang disebut bifa, berarti tanaman telah terserang jamur. Kumpulan bifa yang keluar dari bagian tanaman biasanya berwarna putih, kuning, merah atau bias pula berbentuk tonjolan seperti bisul kecil. Untuk memastikannya, bagian tanaman yang terkena penyakit diambil sedikit, diletakan diatas kertas tisu basah, kemudian ditempatkan diwadah transparan, seperti gelas tertutup. Setelah beberapa hari, jika terlihat kumpulan benang-benang halus (bifa), dapat dipastikan penyebab penyakit tanaman adalah jamur. Penyakit jamur dapat diatasi dengan fungisida.
-          Sedangkan jika bagian yng membusuk itu mengeluarkan lendir setelah dicelupkan kedalam air, kemungkinan besar tanaman telah terinfeksi bakteri yang umumnya menyerang pembul kapiler tanaman.
-          Perlu diperhatikan bahwa dengan terlukanya organ tanaman karena serangan hama (penyebab primer), dapat diikuti dengan masuknya jamur atau bakteri (penyebaba sekunder) yang menyebabkan kerusakan lebih parah, sehingga perlu dilakukan pengendalian untuk keduanya.

2. Pemantauan Siklus Hidup OPT

            Dengan mengetahuai siklus hidup OPT dapat diketehui fase pertumbuhan OPT yang menimbulkan kerusakan pada tanaman dan waktu dilakukan tindakan pengendalian. Jika telah diketahui siklus hidup OPT, dapat ditetukan cara yang efektif untuk memutuskan siklus tersebut.siklus hidup berbagai jenis OPT dapat diketahui dari literature yang membahas jenis-jenis hama dan penyakit dan dapat dibandingkan dengan kondisi lapangan. Sebagai contoh gambar berikut ini adalah siklus hidup dari kumbang daun (Papilla Japonica).

C.    Penetapan ambang ekonomi

Petetapan ambang ekonomi dari kerusakan yang ditimbulkan oleh hama dan penyakit tanaman, untuk jenis tanaman tertentu yang disebabkan oleh OPT tertentu, haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

1.      Spesifik

Nilai ambang ekonomi yang dibuat hanya untuk satu jenis OPT tertentu yang merusak jenis tanaman tertentu, sehingga ambang ekonomi untuk kumbang kelapa misalnya, tidak dapat digunakan untuk jenis hama lainnya pada tanaman yang sama.

2.      Mudah Terukur

Parameter yang dipakai harus kuantitatif dan bukan kualitatif sehingga mudah pengamatan dilapangan. Artinyan pengukuran dapat dilakukan semua orang dengan hasil yang mmendekati sama.

3.      Mempertimbangkan OPT dan tanaman

Nilai ambang ekonomi yang dibuat harus pula mempertimbangkan kecepatan perkembangbiakan jenis OPT dan nilai ekonomi tanaman. Table beriku merupakan contoh pentapan nilai ambang ekonomi yang benar.

Tabel 1.                       Contoh penetapan nilai ambang ekonomi hama
Jenis hama
Ambang ekonomi
Penggerek batang padi

Wereng punggung putih pada padi
Walang sangit pada tanaman padi

Ulat grayak pada tanaman padi
Kutu daun (myzus persicae) pada bawang merah
Ulat grayak pada tanaman kubis
Penggerek tongkol (Heliotis sp) pada jagung
Ulat grayak pada cabai
Thrips pada tomat
Penghisap daun (Empoasca sp) pada kacang tanah
Lalat Agromyza sp pada kacang panjang
Ø  1 kelompok telur /m2 atau intesitas seranganrata-rata 10%
Ø  1 ekor / tanaman
Ø  5 ekor /m2 pada tahap tanaman setelah berbunga
Ø  5 ekor /m2
Ø  10 ekor ninfa / 35 helai daun
Ø  5 ekor ulat setiap 10 tanaman
Ø  3 tongkol rusak / 30 tanaman
Ø  2 ekor larva / tanaman
Ø  1 ekor pada tanaman
     Intensitas serangan > 12,5 %
     Intensitas serangan > 1 %

d.      Tahap pelaksanaan

Berikut ini disajikan beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangan OPT menurut konsep PHT. Untuk mencapai efektifitas pengendalian OPT, seluruh cara dibawah ini  sebaiknya dilakukan secara terpadu dan saling melengkapi.



1.     Genetik

Pelaksanaan PHT dimulai dengan pemilihan jenis tanaman dan varietas yang tahan terhadap serangan OPT. program pemilihan tanaman telah banyak menghasilkan varietas tanaman yang tahan terhadap serangan OPT. tanaman transgenic merupakan contoh mutakhir yang sampai saat ini masih kontroversial. Selain itu, pemilihan jenis tanaman juga mempertimbangkan kesesuaianya dengan kondisi lingkungan dilokasi penanaman. Saat ini terdapat kecenderungan untuk mengusahakan tanaman diluar zona adaptasinya. Contohnya adalah penanaman tanaman dataran tinggi didataran rendah, sehingga tanaman mudah stress dan kemungkinan terserang OPT meningkat.

Sangat disarankan  melakukan pergiliran tanaman dan menerapkan system tumpang sari untuk memperkecil kerugian akibat serangan OPT. biasanya OPT tertentu akan menyerang suatu jenis tanaman tertentu. Contohnya, jika saat ini tanaman cabe banyak terkena penyakit antraknosa, sebaiknya pada musim tanam berikutnya hindari penanaman keluarga cabe (solanaceae), seperti tomat atau terung. Akan lebih baik jika ditanami jenis kacang-kacangan atau jagung. Karena hal tersebut akan memutuskan siklus hidup penyakit antranoksa,sehingga akan mencegah terjadinya serangan yang lebih besar dikemudian hari.

1.     Sanitasi

Sanitasi merupakan usaha untuk memperkecil kemungkinan meluas atau menularnya serangan OPT. Tindakan yang harus dilakukan sebagai berikut.
-          Menggunakan benih bersertifikat yang bebas penyakit, karena banyak sekali penyakit yang menular  melalui benih (seed born).
-          Memusnahkan atau memangkas tanaman yang sakit, terutama tanaman yang terkena penyakit akibat virus, seperti penyakit keriting pada tanaman cabe.
-          Membersikan areal tanaman pertanian dari tumpukan sampah. Telah diketahui bahwa tumpukan sampah merupakan sumber berbagai macam penyakit. Contohnya kumbang kelapa yang selalu memilih tumpukan sampah untuk meletakan telurnya.
-          Membersikan peralatan yang terkontaminasi penyakit tanaman.

2.     Perlakuan Fisik

Perlakuan atau tindakan fisik lebih banyak dilkukan untuk mengendalikan serangan hama.
-          Pemasangan perangkap dan geropyokan untuk mengendalikan hama tiklus.
-          Paemakaian perangkap lampu untuk menjerat serangga.
-          Pemasangan bebegig atau orang-orangan sawah untuk mengusir burung.

3.     Pengendalian Biologis

Cara ini dilakukan dengan menyebarkan dan memelihara musuh alami atau predator dari OPT tertentu didaerah pertanian. Musuh alami yang paling populer saat ini adalah jenis bakteri bacillus thuringiensis yang merupakan sumber penyakit ulat api pada kelapa sawit, ulat putella sp. Pada tanaman kubis, dan penggerek batang tebu. Pada tahun-tahun terakhir bakteri bacillus thuringiensis telah dikembangkan secara komersial yang dikenal sebagai pestisida biologias. Beberapa merek dagang yang telah tersedia dan dipasarkan seperti thuricide HP, delfin WDG, dan costar OF.

Contoh lain dari musuh alami OPT adalah belalang sembah ayang merupakan pemangsa kutu daun (aphid), ular piton dan burung hantu pemangsa tikus sawah, jamur beauvearia bassiana dan metarrhizium anisoppliae menjadi penyakit untuk ulat jengkal (Ectropis burmitra) pada tanaman teh. Keberadaan musuh alami ini harus tetap terjaga dengan cara menyediakan keadaan lingkungan yang sesuai dan tidak menyemprotkan pestisida secara berlebihan.

Untuk memilih cara biologis yang sesuai dangan masalah yang dihadapi di lapangan, perlu dilakukan penelusuran literatur agar diperoleh hasil penelitian tentang efektifitas musuh alami untuk tanaman tertentu dan cara pemanfaatanya. Pengendalian biologis memerlukan waktu yang lebih lama untuk memperlihatkan hasil yang diharapkan jika dibandingkan dengan pemakaian pestisida kimia. Meskipun demikian, dalam jangka panjang mampu memberikan perlindungan yang lebih maksimal.


4.     Pengendalian Kimiawi

Cara ini digunakan cara kimia (pestisida) untuk mengendaliakn OPT. Dalam banyak kasus pestisida memang berhasil menekan populasi OPT dalam waktu singkat, jika digunakan dengan tepat sebagai bagian dari strategi penerapan PHT. Pada PHT, pemakaian pestisida yang berspektrum luas, dengan dosi tinggi, dan pemakaian satujenis pestisida dalam waktu panjang harus dihindari. Hal ini harus dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya.

5.     Pencatatan dan Evaluasi

Kegagalan atau keberhasilan suatu tindakan pengendalian OPT harus dicatat dengan rinci untuk dievaluasi kelebihan dan kekuranganya. Catatan-catatan ini suatu saat akan kembali menjadi bagian dari sejarah lahan.








                                                       ********************************


Tiga
JENIS DAN SIFAT
PESTISIDA





Pada saat ini, di pasaran beredar ratusan merek dagang pestisida dengan berbagai macam kandungan bahan aktif,fungsi, bentuk formulasi, dan cara kerjanya. Sbelum memilih jenis pestisida yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, harus diketahui terlebih dahulu tujuan penyemprotan pestisida. Penyemprotan OPT yang tergolong serangga berbeda dengan golongan jamur atau bakteri. Demikian pula cara kerja pestisida akan berpengaruh terhadap jenis OPT, misalnya serangga yang dapat terbang berbeda dengan serangga yang statis. Kesalahan sering terjadi dalam pemilihan pestisida biasanya disebabkan tidak tahunya pemakai mengenai jenis dan sifat pestisida yang digunakan.

A.   Penggolongan Pestisida

a.       Fungsi pestisida

Secara garis besar pestisida dapat dikelompokan berdasarkan kelompok OPT yang akan dikendalikan dan berdasarkan fungsi pestisida tersebut. Penggolongan inilah yang sering menimbulkan salah pengertian dari pemakaiannya, sehingga menimbulkan kesalahan dalam aplikasinya. Karena kesalahan dalam memilih jenis pestisida yang akan digunakan menyebabkan tidak berfungsinya pestisida tersebut seperti yang diharapkan. Sebelum membuat keputusan dalam memilih pestisida harus diketahui dahulu fungsi beberapa golongan pestisida pada tabel.

Tabel 2.     Fungsi beberapa jenis pestisida
Jenis pestisida
Fungsi
Contoh merek dagang
Insektisida
Fungisida
Herbisida
Bakterisida
Rodentisida
Nematisida
moluskisida
Mengendalikan serangga
Mengendalikan jamur
Mengendalikan gulma
Mengendalikan bakteri
Mengendalikan tikus
Mengendalikan nematoda
Mengendalikan siput
Regent, Dursban, Sherpa Dll
Dithane M45, Daconil, Dll
Round Up, DMA 6, Dll
Agrept, Starner, Kasumin
Klerat, Petrokum, Dll
Furadan 3 G, Rugby 10 G
Siputox 5G, Boss 250 EC

Pembahasan selanjutnya akan terfokus ada insektisida, fungisida, dan herbisida, karena ketiga golongan pestisida trsebut yang paling banyak digunakan dalam pertanian. Masing-masing golongan terdiri banyak merek dagang dipsaran, dan mengandung bahan aktif yang berbeda.

            Selain dikenal melalui merek dagang, pestisida dikenal melalui jenis bahan aktif yang dikandungnya. Nama bahan aktif merupakan nama umum dari nama senyawa kimia yang mengandung racun. Nama senyawa kimia biasanya terlalu panjang dan tidak praktis digunakan. Bahan aktif yang jumlahnya sangat banyak itu dikelompokan dalam beberapa golongan menurut kesamaan struktur kimia dan biasanya memiliki cara yang sama dalam meracuni OPT. Tata nama (nomenclatur) pestisida merupakan ketetapan internasional, sehingga diseluruh negara memiliki kesamaan dalam menyebutkannya. Berikut ini contoh tata nama sebuah produk pestisida.



Merek dagang                                                  :           Furadan 3 G
Nama umum (nama bahan aktif)                     :           Karbofuran
Nama kimia                                                     :           2,3 dihidro-2,2 dimetil-7 benzonil Metil
karbamat
Golongan                                                         :           Karbamat

            Nama-nama kimia ini memang tidak banyak artinya terhadap tanaman dan pengelola pertanian. Namun, litelaratur mengenai pengendalian OPT biasanya merekomendasikan jenia pestisida dalam bentuk bahan aktif dan bukan merek dagang. Misalnya, fungisida untuk mengendalikan penyakit busuk hitam pada tanaman anggrek dianjurkan yang mempunyai bahan aktif mankozeb. Jika tidak diketahui jenis fungisida yang berbahan aktif mankozeb, akan terjadi pemakaian fungisida yang salah. Selain itu satu jenis bahan aktif dapat diperdagangkan dengan berbagai merek dagang. Karenanya para praktisi pertanian harus mengetahui bahan aktif pestisida yang digunakannya. Misalnya bahan aktif karbofuran, dapat dijumpai dengan merek dagang Furadan 3 G, Petrofur 3 G, atau Curater 3 G.

Tabel 3 Golongan kimia, bahan aktif, dan contoh merek dagang insektisida
Golongan
Senyawa Kimia
Contoh Bahan Aktif
Contoh Merek Dagang
Organofosfat





Karbamat



Piretroid
Diazinon
Diklorvos
Klorpilifos
Monokrotofos
Triazofos
Fentoat
BPMC
Karbaril
Karboofuran
MICP
Alfa Sipermetrin
Deltametrin
Diazinon, Basudin
Sheltox
Ambithion, Fomadol
Azodrin, Nuvacron
Hostation, Curacron
Elsan
Hopcyn
Sevin
Furadan
Mipcin
Fastac
Decis

Pengunaan satu jenis bahan aktif secara terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menyebabkan terjadinya kekebalan OPT terhadap bahan aktif tersebut. Karena itu agar tidak terjadi kekebalan OPT terhadap satu jenis bahan akyif, pemakaian satu jenis bahan aktif sebaiknya tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama. Perlu dilakukan rotasi pada jenis bahan aktif yang digunakan. Artinya dalam suatu masa periode tanam sebaiknya dipergunakan 2 – 3 pestisda yang mengandung bahan aktif yang berbeda
.
            Pada tabel 3, 4, dan 5 dijelaskan beberapa contoh merek dagang pestisida, bahan aktif, dan golongan kimianya. Daftar bahan aktif pestisida yang lebih lengkap disajikan pada tabel lampiran.

Tabel 4 golongan kimia, bahan aktif, dan contoh merek dagang fungisida
Golongan
Senyawa Kimia
Contoh Bahan Aktif
Contoh Merek Dagang
Tembaga (Anorganik)


Organofosfat

Organoklorin
Karbamat
Triazol
Tembaga Oksiklorida
Tembaga Hidroksida
Cupro Oksida
Fosfodifen
Pirazofos
Folpet
Propamokarb
Heksakonasol
Cuprafit, Shell Copper
Kocide, Champion
Copper Sandoz
Kasumiron
Afugan
Akofol
Previcur N
Anvil

Dengan perjalanan waktu, mungkin beberapa bahan aktif tidak diperdagangkan lagi dengan alasan tidak lagi efektif dalam mengendalikan OPT, tidak terlalu laku dipasaran atau karena, menimbulkan pencemaran, dan keracunan. Selain itu, setiap tahun akan muncul bahan aktif baru dengan keunggulan-keunggulan lain. Karenanya tidak memungkinkan untuk membuat daftar yang bersifat permanen tentang merek dagang pestisida yang tersedia di pasaran. Sangat penting bagi pengguna pestisida untuk selalu membaca label pestisida,karena semua informasi yang dibutuhkan tertera pada label.

Tabel 5 golongan kimi, bahan aktif, dan contoh merek dagang herbisida
Golongan
Senyawa Kimia
Contoh Bahan Aktif
Contoh Merek Dagang
Fenoksi
Bipiril

Organofosfat
Organoklorin
Sulponil Urea
Triazin
2,4 D
Paraquat
Isopropil Amina
Glifosat
Triklopir
Etilpiroza Sulfuron
Atrasin
DMA 6

Gramaxone, Herbatop
Round Up, Polaris
Garlon
Billy
Sanutra

b.      Cara Kerja Racun Pestida

1.      Racun kontak

Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan bagian tubuh OPT sasaran, sehingga sebaiknya dipakai untuk OPT yang berada dipermukaan tanaman. Insektisida jenis ini tidak begitu efektif untuk mengendalikan OPT yang berpindah-pindah dan terbang, seperti belalang dan kumbang, kecuali jika serangga jenis ini hinggap pada tanaman yang masih menyimpan residu pestisida, sehingga terjadi kontak antara serangga dan insektisida. Tetapi insektisida jenis ini sangat efektif untuk mengendalikan serangga  yang menetap seperti ulat grayak, kutu daun, dan semut, karena begitu disemprotkan, insektisida langsung menyentuh tubuh hama.

Selain pada insektisida, cara kerja seperti ini dimiliki oleh fungisida dan herbisida. Herbisida racun kontak hanya mematikan bagian gulma yang terkena semprot, sehingga penyemprotannya harus merata dan hanya cocok digunakan dengan gulmayang tidak berkembang biak melalui perakaran, seperti gulma berdaun lebar.

2.      Racun pernapasan

Cara kerja racun pernapasan hanya dimiliki oleh insektisida dan rodentisida. Pestisida jenis ini dapat membunuh serangga jika terhisap melalui pernapasannya. Waktu aplikasinya menjadi penentu keberhasilan pengendalian dengan pestisida jenis ini.

Jika pestisida jenis ini disemprotkan bukan pada waktu puncak aktifitas hama, efektifitasnya akan berkurang. Racun pernapasan sering juga disebut juga disebut sebagai fumigan dan sering digunakan untuk mengendalikan hama gudang. Fumigan juga dapat dipakai untuk melakukan sterilisasi tanah untuk mematikan hama yang ada didalam tanah.

3.      Racun lambung

Racun yang terdapat di dalam pestisida ini baru bekerja jika bagian tanaman yang telah disemprotkan termakan oleh OPT, sehingga racun yang ada pada permukaan daun ikut termakan. Beberapa insektisida dan rodentisida bekerja dengan cara ini.

4.      Racun Sistemik

Cara kerja seperti ini dapat dimiliki oleh insektisida, fungisida, dan herbisida. Racun sistemik setelah disemprotkanatau ditebarkan pada bagian tanamanakan terserap kedalam jaringan jaringan tanaman melalui akar atau daun, sehingga dapat membunuh OPT yang berada didalam jaringan tanaman seperti jamur dan bakteri. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati setelah memakan tanaman atau menghisap cairan tanaman yang telah disemprot. Bagian tanaman atau cairan tanaman menjadi racun lambung bagi serangga, sehingga sangat tepat untuk mengendalikan serangga penggerek yang berada di dalam batang. Racun sistemik memiliki toksisitas yang lebih rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan racun lain.

Sedangkan pada herbisida, jenis sistemik dapat mematikan bagian tanaman yang berada diatas dan dibawah permukaan tanah, sehingga sangat tepat untuk mengendalikan gulma yang menyebar melalui organ yang ada dibawah tanah, seperti teki dan alang-alang.

5.      Herbisida Purna-tumbuh dan Pra-tumbuh

Pada herbisida dikenal kelompok herbisida purna-tumbuh (post emergence) dan herbisida pra-tumbuh (pre emegance). Herbisida purna-tumbuh hanya dapat mematikan gulma yang telah tumbuh dan memiliki organ yang sempurna seperti akan cabang dan daun. Sedangkan herbisida pra-tumbuh mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

6.      Racun Antikoagulan

Racun antikoagulan merupakan cara kerja yang umum dari rodentisida. Racun ini menghambat bekerja dengan cara menghambat proses pembekuan darah.

c.       Bentuk Formulasi Pestisida

Pestisida tidak perna dipasarkan dalam bentuk bahan aktif murni. Bahan aktif pestisida dicampur dengan bahan-bahan lain menjadi berbentuk tepung atau butiran atau dapat juga dilarutkan dalam bahan kimia pelarut atau perekat sehingga menjadi larutan pekat yang mudah larut didalam air. Tujuan pencampuran ini adalah agar produk pestisida mudah dikemas, mudah digunakan,dan stabil didalam penyimpanan. Produk akhir dari pencampuran disebut sebagai formulasi pestisida. Beberapa jenis formulasi pestisida sebagai berikut.



1.      Water dispersable granule (WDG)

Berbentuk butiran halus (micro granules) bebas debu, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Formulasi ini didalam air bersifat kurang stabil atau agak mudah mengendap, sehingga perlu diaduk terus-menerus selama proses penyemprotan.

2.      Emulsifiable concentrate (EC)

Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut didalam minyak dengan penambahan bahan emulsi (pencampur minyak dan air). Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut didalam minyak dapat larut didalam air dan membentuk larutan seperti susu. Bahan ini stabil setelah dilarutkan didalam air dan tidak perlu diaduk terus-menerus.

3.      Salt concentrate (SC)

Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Contohnya 2,4 D adalah bahan aktif herbisida yang sukar larut di dalam air, dengan mereaksikan 2,4 D dengan bahan garam dapat dibuat menjadi sangat larut. Bersifat cepat larut dan menyebar mereta di dalam air tidak memerluka pengadukan terus-menerus.

4.      Wettable powder (WP)

Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut yang rendah. Wp mengandung bahan tambahan (filler), seperti tepung. Bahan aktif direkatkan pada tepung melalui bahan perekat. Pestisida ini berbentuk tepung kering bersifat tidak stabil didalam air sehingga perlu diaduk dengan teratur.


5.      Ultra low volume (ULV)

Formulasi ini berbentuk cair, dengfan kandungan bahan aktif yang sangat tinggi. Pestisida konsentarat ini dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus (ultra low volume) tanpa dilarutkan dalam air.

6.      Granule (G)

Pestisida ini berbentuk butiran padat dengan ukuran seragam, sehingga mudah ditebarkan. Formulasi ini merupakan campuran antara bahan aktif dan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat dan vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Merek dagang pestisida biasanya selalu diikuti dengan singkatan formulasinya dan angka yang menunjukan besarnya kandungan bahan aktif. Contohnya merek dagang herbisida ronstar 250 ec, berarti mengandung 250 g/l bahan aktif oksadiazon yang diformulasikan dalam bentuk Emulsifiable Concentrate (EC). Contoh lain adalah merek dagang Furadan 3G yang berarti mengandung 3 % bahan aktif karbofuran dalam formulasi granule (G).

B.   Karakteristik Pestisida

Dalam menentukan jenis pestisida yang tepat,perlu diketahui karakteristik pestisida, yang meliputi efektivitas, selektivitas, fitotoksisitas, residu, persistensi, LD 50, dan kompatabilitas. Berikut ini akan dijelaskan karakteristik-karakteristik tersebut.
a.      Efektifitas

Merupakan daya bunuh pestisidaterhadap OPT. Pestisida yang bagus seharusnya memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis yang terlalu tinggi, sehingga memperkecil dampak buruknya terhadap lingkungan.

b.      Selektifitas

Selektivitas sering disebut dengan istilah spektrum pengendalian, merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Pestisida yang disarankan dalam program PHT adalah pestisida bersifat selektif atau berspetrum sempit. Berarti pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran dan tidak berbahaya untuk organisme lain dan aman bagi musuh alami OPT.


c.       Fitotoksisitas

Fitotoksisitas merupakan suatu sifat yang menunjukan potensi pestisida untuk menimbulkan efek keracunan bagi tanaman yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Pestisida yang sebaiknya digunakan adalah pestisida dengan fitotoksisitas yang rendah. Beberapa jenis pestisida jika diaplikasikan dengan cara yang tidak tepat akan merusak tanaman. Contohnya, penyemprotan fungisida pada saat suhu udara sangat panas akan menyebabkan daun tanaman menjadi kuning dan layu. Penyemprotan herbisida 2,4 D padi antara tanaman padi seharusnya tidak menimbulkan pada gulma yang tumbuh kerusakan padi jika menggunakan dosis dan kosentrasi yang disarankan pada labelnya.

d.      Residu

Residu adalah racun yang tinggal pada tanaman setelah pemyemprotan yang akan bertahan sebagai racun sampai batas waktu tertentu. Jika residu pestisida terlalu lama bertahan pada bagian tanaman yang disemprot, akan berbahaya bagi manusia dan mahluk hidup lain, karena residu pestisida akan termakan oleh manusia saat mengonsumsi hasil pertanian. Tetapi jika racun pestisida terlalu cepat hilang dari bagian tanaman yang disemprot,pestisida akan kehilangan efektifitasnya dalam pengendalian OPT.



e.       Persistensi

Persistensi adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun dalam tanah. Pestisida yang mempunyai resistensi tinggi akan sangat berbahaya karena dapat meracuni lingkungan. Pestisida dengan bahan aktif Eldrin dan Dieldrin dapat bertahan di dalam tanah dan aktif dalam bentuk racun selama 10 tahun. Karenanya, pestisida jenis ini dilarang oleh pemerintah.

f.        Resistensi

Resistensi merupakan kekebalan OPT terhadap aplikasi suatu jenis pestisida yang mudah menyebabkan resistensi OPT sebaiknya tidak digunakan.

g.      LD 50 atau Lethal Dosage 50%

Berarti besarnya dosis yang mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan (biasanya tikus). Program PHT menginginkan pestisida dengan LD 50 yang tinggi. Artinya hanya pada dosis yang sangat tinggi pestisida dapat mematikan mamalia. Dengan kata lain daya racunya terhadap manusia dan binatang lebih rendah.

h.      Kompatabilitas

Kompatabilitas adalah kesesuaian jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif. Informasi tentang jenis pestisida yang dapat dicampur dengan pestisida tertentu biasanya terdapat pada label di kemasan pestisida.





C.   Perjalanan Pestisida Setelah Penyemprotan

Setelah diseprotkan pada tanaman, maka pestisida akan segera terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi pada pestisida setelah disemprotkan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan yang efisien dan mencegah terjadinya pencemaran.

Setelah disemprotkan kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah angin akan meniup embun hasil penyemprotan pestisida, sehingga menyebabkan perpindahan pestisida ke daerah yang tidak diharapkan. Walaupun butiran semprot pestisidasampai ke daerah sasaran, sebarannya tidak lagi merata. Jika hal ini terjadi pada penyemprotan herbisida,akan terjadi kematian atau kerusakan pada tanaman pokok. Untuk menghindarinya, sebaiknya pestisida penyemprotan pestisida dilakukan jika tidak ada angin atau kecepatan angin dibawah 4 MPH dan tekanan tangki semprot yang berlebihan harus dihindari. Kemungkinan lain yang terjadi pada pestisida setelah disemprotkan sebagai berikut.

Pestisida setelah disemprotkan: dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi pada pestisida setelah disemprotkan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan yang efisien dan mencegah terjadinya pencemaran.

a.       Run off atau aliran permukaan. Sebagian dari butiran semprot yang membasahi daun menetes jatuh ke tanah, mungkin karena penyemprotan yang terlalu lama di satu tempat atau karena butiran semprot yang terlalu besar. Tetesan pestisida yang jatuhdari tajuk tanaman ini berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan.
b.      Penguapan, yaitu perubahan bentuk pestisidasetelah disemprotkan dari bentuk cair menjadi gas dan hilang diatmosfer.
c.       Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif karena pengaruh cahaya.
d.      Penyerapan oleh partikel tanah. Hal ini menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah. Selain itu,penyerapan bahan aktif pestisida oleh tanah akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan hama yang terdapat dibawah permukaan tanah.
e.       Pencucian pestisida oleh hujan dan terbawah kelapisan tanah bagian bawah dan akhirnya mencemari sumber air tanah dan air sungai.
f.       Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif atau tidak beracun.
g.       Perombakan oleh mikro-organisme tanah. Bahan pembentuk pestisida setelah disemprotkan akan menjadi bagian dari tubuh mikro-organisme.

***



Empat
EFEKTIFITAS PEMAKAIAN
PESTISIDA




EFEKTIFITAS pemakaian pestisida sangat ditentukan oleh jenis pestisida yang tepat, dosis dan konsentrasi yang tepat, serta cara dan waktu aplikasi yang tepat. Kesalahan dalam pemilihan pestisida membuat tujuan pemberian pestisida tersebut menjadi sia-sia. Penggunaan dosis, konsentrasi, dan volume semprot yang tepat mutlak harus dilakukan. Sebab, pemberian dosis dan konsentrasi yang kurang atau berlebihan dari rekomendasi yang dianjurkanakan berakibat pestisidatersebut tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya. Sedangkan cara dan waktu aplikasi yang tepat berhubungan dengan cara kerja pestisida dengan fisiologis tanaman. Berikut ini akan dibahas tentang ketiga faktor tersebut.

A.   Pemilihan jenis pestisida yang tepat

Pemilihan jenis pestisida yang paling cocok dan efektif digunakan sangat tergantung dari hal-hal berikut ini.

a.      Jenis OPT yang Sedang Berjangkit

Jenis dan cara OPT merusak tanaman sangat menentukan jenis formulasi dan cara kerja pestisida yang sebaiknya dipilih. Pada label kemasan pestisida biasanya tercantum jenis OPT yang dikendalikan oleh pestisida tersebut.

b.      Jenis Tanaman yang Terserang

Dalam setiap kemasan pestisida, produsen pestisida mencantumkan jenis tanaman yang dapat disemprot dengan pestisida. Selain itu, nilai ekonomi tanaman juga sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan pestisida. Tanaman dengan nilai ekonomi tinggi dapet menggunakan pestisida berharga lebih mahal dan memiliki keunggulan tertentu. Tabel 6. Adalah contoh rekomendasi merek dagang pestisida untuk tanaman tertentu yang diserang oleh OPT tertentu. Tabel selengkapnya disajikan pada lampiran.

Tabel 6. Beberapa rekomendasi pestisida untuk jenis tanaman dan OPT tertentu
Jenis Tanaman dan OPT
Merek Dagang Pestisida
1.      Anggrek
Kutu perisai (Parlatoria proteus)
2.      Bawang merah
Penyakit jamur bercak ungu (Alternaia porri)



Supracide 40 EC

Anvil 75 WP            Kocide 60 WDG
Daconil 500 F        




c.       Harga Komperatif

Harga komperatif adalah perbandingan harga dari alternatif pestisida yang ada dan anggaran yang tersedia. Di pasaran tersedia beberapa merek dagang pestisida dengan fungsi dan kandungan bahan aktif yang berbeda-beda. Para pengguna pestisida harus jeli membaca label yang mencantumkan bahan aktif dan kepekatan bahan aktif dan tidak tergoda dengan iklan-iklan tentang keunggulan salah satu merek pestisida. Berikut contoh persoalan dalam memilih dua merek pestisida mengandung bahan aktif yang sama dengan harga dan dosis pemakaian yang berbeda.

Pestisida X dengan dosis 2 kg/ha dijual dengan harga Rp 100.000/kg. Pestisida Y dengan dosis 1 kg/ha ditawarkan dengan Rp 150.000/kg. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menyemprotkan pestisida X pada areal seluas 1 ha adalah 2 kg/ha x Rp 100.000 = Rp200.000/ha. Untuk pestisida Y, biaya yang dikeluarkan adalah 1 kg/ha x Rp150.000 kg/ha = Rp150.000/ha. Jadi, jelas biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap hektar lebih hemat jika menggunakan pestisida Y. Dalam memilih harga pestisida, sebaiknya juga diperhatikan dosis pemakaiannya. Pada contoh diatas, walapun pestisida Y memiliki harga per kg yang lebih tinggi dari pada pestisida X, untuk biaya per hektar lebih murah.

d.      Karakter-Karakter Tertentu yang Mendukung Program PHT

Pestisida dengan spektrum sempit, LD 50 yang tinggi dan persistensi rendah, sangat disarankan dalam pelaksanaan program PHT.

e.       Pencegahan Kekebalan

Untuk mencegah terjadinya kekebalan OPT terhadap pestisida, disarankan tidak menggunakan satu jenis bahan aktif dalam jangka waktu panjang. Sebaiknya dilakukan pergantian atau rotasi jenis bahan aktif pestisida setiap kurun waktu tertentu, dengan bahan aktif yang berbeda pengaruhnya terhadap OPT. Contohnya racun pernapasan ditukar racun kontakatau racun lambung.

B.   Dosis, Konsentrasi,  dan Volume,  Semprot  yang Tepat

Dosis, konsentrasi, dan volume semprot yang tepat biasanya tertera pada label kemasan pestisida yang merupakan hasil dari beberapa penelitian. Konsentrasi dan kepekatan campuran pestisida adalah jumlah pestisida (dalam satuan volume atau bobot) yang harus dicampurkan kedalam sejumlah air (dalam satuan volume). Jika label suatu pestisida menyarankan pemakaian konsentrasi 1,5 – 2,5 cc/l, berarti dalam satu liter air harus ditambahkan 1,5 – 2,5 cc pestisida, jika tangki alat semprot diisi dengan 10 liter air, berarti pestisida yang harus dicampurkan adalah 15 – 25 cc. Sangat disarankan untuk menggunakan konsentrasi dan dosis terkecil terlebih dahulu.

Pengguna pestisida sebaiknya menggunakan gelas ukur atau timbangan, terutama jika didalam kemasan pestisida tidak terdapat takaran untuk menentukan jumlah pestisda yanga harus dicampurkan kedalam sejumlah air. Untuk praktisnya dilapangan, digunakan takaran tertentu yang telah diketahui volumenya, misalnya 1 tutup botol pestisida tertentu setelah diukur dengan menggunalkan gelas ukur mempunyai volume 10 ml, jika untuk 1 tangki alat semprot haus dicampurkan 20 ml pestisida, cukup menuangkan 2 tutp botol pestisida. Dengan demkian gelas ukur tidak pedlu dibawah ke lapangan.

Dosis pestisida merupakan jumlah volume atu bobot pestisida yang harus disempritkan secara merata pada luasan tertentu. Contohnya herbisida DMA menyarankan do9sis 1 – 1,51 DMA/ha. Sedangkan volume semprot berarti volume campuran auir dan pestisida yang harus disemprotkan secara merata pada luas tertentu, sepertli fungisida Dithane M45 menyarankan dosis 500 – 1000 liter larutan/hektar untuk mengendalikan penyakit bercak daun Alternaria sp pada tanaman bawang. Hal ini berarti 500 -  1000 liter larutandithane M45 yang telah dicampurkan dengan air harus habis disemprotkan secara merata pada areal seluas 1 hektar. Untuk memperoleh dosis dan volume semprot sesuai dengan yang tercantum pada label pestisida, alat semprot perlu dikalibrasi dengan metode yang akan dibahas pada bagian Enam.

Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam mencampur pestisida dengan air.

a.       Lakukan pencampuran ditempat terbuka dan janngan dilakukan dirangan tertutup.

b.      Pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan jika akan segera mekakukan penyemprotan. Jangan melakukan pencampuean sekarang untuk penyemprotan esok hari.

c.       Gunakan aor yang bersih, bening, dan tidk mengandung partikel atau kotoran yang akan menyebabkan tersumbatnya mozel dari alat semprot. Masukan tangan ke dalam sumber air, jika tangan masih dapat terlihat air tersebut dapat digunakan. Jangan menggunakan air dengan tingakat kesadahan yang tinggi, seperti air laut.

d.      Isikan air terlebih dahulu ke dalan tangki alat seprot, baru kemudian masukan pestisida dan aduklah dengan hati-hati. Jangan mengisi tangki dengan pestisida terlebih dahulu, kerena sebagian besar pestisida dapat menyebabkan timbulannya busa pada saat air dimasukan alat semprot yang digunakan harus siap pakai benar dan jangan menggunakan alat semprot yanga bocor.

e.       Periksalah kemasan pestisida jangan menggunakan atau membeli pestisida dengan kemasan rusak. Jangan menggunakan pestisida yanga telah terlalu lama disimpam dan mengalami perubahan fisilk, seperti terbentuknya garam disekitar tutup botol atau perubahan warna.

f.       Jangan melakukan pencampuran pestisida satu dengan yang lain, jika belum yakin kedua pestisda tersebut dapat dicampur. Pada label kemasan pestisida biasanya dicantumkan jenis pestisda yang boleh dan tidak boleh dicampurkan. Pencampuran dua jenis pestisda harus dilakukan dengan hati-hati, karena pencampuran tersebut dapat mempertinggi atau menurunkan daya racun. Jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau kedua jenis pestisida membentukan lapisan yang tidak dapat menyatu, seperti minyak dan air, kedua jenis pestisida tersebut tidak kompetibel atau tidak dapat dicampurkan.
g.       Buatlah campuran pestisida dengan perhitungan kebutuhan luas areal yang akan disemprotkan, sehingga setelah selesai menyemprot, tidak tersisa larutan pestisida didalam trangki. Pestisida yang tersisa selain memperbesar biaya, dapat menyebabkan pencemaran lingkungan jika dibuang sembarangan.

h.      Jangan meningkatkan Dosis dan konsentrasi pestisida lebih tinggi dari kisaran yang tercantum pada label pestisida. Dosis yaqng lebih tinggi dari yang disarankan tidak akan meningkatkan efektifitas pengendalian, bahkan dapat merusak dan meracuni tanaman. Jika pada dosis dan konsentrasi tertinggi sesuai dengan yang tercantum pada labelnya, suatu pestisida tidak lagi efektif untuk mengendalikan OPT disarankan mengganti jenis pestisida yang berbeda bahan aktifnya.


Diperlukan beberapa perhitungan sederhana untuk mencapai dosis, konsentrasi, dan volume semprot seperti yang disarankan pada label pestisida. Berikut ini disajikan beberapa contoh perhitungan dosis dan konsentrasi pestisida.

a.       Untuk mengendalikan penggerek batang padi, disarankan menebarkan insektisida dengan bahan aktif kabofuran dengan dosis 2 kg/ha. lnsektisida yang tersedia adalah Furadan 3G. Berapakah jumlah furadan 3G yang harus ditebarkan agar tercapai dosis yang disarankan ?
Solusi :
Furadan 3G mengandung 3% bahan aktif karbouran dalam formulasi granular. Untukl mencapai dosis 2kg karbofuran per hektar diperlukan Furadan 3G sejumlah 100/3 x 2 kg/ha = 66 kg Furadan 3G.

b.      Untuk mengendalikan bercak daun Cercospora pada kacang tanah disarankan menggunakan fungisida Dithane M45 dengan dosis 2 kg/ha. Alat semprot yang digunakan telah dikalibrasi untuk menyemprotkan larutan sejumlah 50cc larutan per m2, dengan kapasitas tangki 25 liter. Berapakah jumlah Dithane M45 yang harus dicampurkan kedalam tangki tersebut ?
Solusi:
Kemampuan semprot alat 50 cc/m2 = volume semprot 500 liter/ha.
Kapasitas tangki adalah 25 liter, sehingga untuk penyemprotan seluas 1 ha dibutuhkan 500/25 = 20 tangki. Dengan kata lain, diperlukan 20 kali pengisian tangki untuk dapat menyemprot kacang tanah seluas 1 ha.
Dosis yang dicapai adalah 2 kg Dithane M45/ha, sehingga untuk setiap tangki harus ditambahkan dengan 2.000 gram Dithane M45/20 tangki = 100 gram Dithane M45 untuk setiap tangki yang berisi 25 liter air.

c.       Untuk mengendalikan gilma berdaun lebar dan golongan teki pada tanaman bawang disarankan memakai herbisida DMA dengan dosis 1-1,5 liter DMA per hektar dan volume semprot 400 liter/ha. Berapa ml kisaran DMA yang harus dicampurkan ke dalam tangki alat semprot yang berisi 12 liter air ?
Solusi:
Dosis 1  - 1,5 liter DMA/ha dengan volume semprot 400 liter campuean/ha, berarti 1 0 1,5 liter DMA harus dicampurkan 400 liter air untuk menyemprot lahan seluas 1 hektar. Ini berarti konsentrasi yang dianjurkan adalah 1 – 1,5 liter DMA/400 liter air atau 2,5 sampai 3,75 ml DMA/liter ait. Jadi, untuk tangki alat semprot yang telah diisi dangan 12 liter air harus ditambahkan DMA sebanyak 12 x 2,5 = 30 ml sampai 12 x 3,75 – 45 ml.

d.      Untuk mengendalikan ulat grayak pada tanaman cabai, insektisida Matador menyarankan pemakaian konsentrasi 0,2 %. Berapa jumlah insektisida Matador yang harus ditambahkan ke dalam tangki alat semprot yang telah diisi dengan 12 liter air ?
Solusi:
Kosentrasi 0,2% = 0,2/100 = 2/1000=2 cc/1000cc = 2cc/1 liter,. Jadi, insektisida Matador yang harus ditambahkan ke dalam 12 liter air adalah 2 cc/1 x 121 = 24 cc.

e.       Untuk mengendalikan nematoda pada tanaman tomat, disarankan menggunakan Furadan 3 G sebanyak 3 gram per lubang tanam. Jika jarak tanam yang digunakan 50 cm x 60 cm, berapakah kebutuhan Furadan 3G untuk lahan seluas 1 ha ?
Solusi:
Untuk lahan seluas 1 ha, dengan jarak tanam 50 cm x 60 cm terdapat 10.000 m2/(0,5 m x 0,6 m) = 30.000  tanaman, sehingga dibutuhkan 3 gram x 30.000 = 90,000 gram = 90 kg Furadan 3G untuk tanaman tomat seluas 1 ha.

C.   Cara  dan  Waktu  Aplikasi  Pestisida  yang  Tepat

Sebagai telah dibahas pada bab satu,pengendalian OPT yang berhasil diagnosis yang lebih dini dan akurat. Pengetahuan para praktisi pertanian tentang siklus hidup OPT, saat OPT menjadi sangat aktif, dan bagian tanaman yang akan terserang, sangat menentukan cara aplikasi pestisida yang tepat.


Cara pengendalian OPTa untuk setiap jenis pestisida (fungsida, insektisida , dan herbisida) sangat  bervariasi. Selain itu, setiap jenis formulasi pestisida (WP, WDG, EC, dan sebagainya) memiliki cara aplikasi yang berbeda. Jenis tanaman dan tahap pertumbuhannyan juga sangat berpengaruh terhadap penentuan cara aplikasi pestisida. Tanaman yang ditanam dengana cara penanama benih, seperti jagung, kacang tanah, dan sebagainya, dapat menggunakan insektisida granular yanga ditempatkan btersama dengan benih tanaman. Tanaman di tempat pembibitan (nursery) dan tanaman dewasa juga berbeda dalam cara aplikasi pestisida.

Informasi yang tepat dan detil tentanga cara dan waktu aplikasi pestisida harus didapatkan pada saat membeli suatu jenis pestisida. Informasi ini dapat berasal dari label kemasan pestisida, brosur yang diterbitkan oleh produsen pestisida, atau dari penyuluh pertanian
.
Penentuan waktu aplikasi pestisida yanga tepat tergantung dari hal-hal sebagai berikut.

a.      Jenis OPT

Setap jenis opt memiliki puncak aktivitas pada waktu tertentu. Contohnya beberapa jenis serangga pemakan daun, pembuat lubang atau panggerek, dan siput beraktifitas pada  malam hari, sehingga waktu yang tepat untuk menyemprotkan insektisida atau moluskisida adalah pada sore hari.

b.      Kondisi lingkungan (angin, hujan, suhu udara, dan sebagainya)

Pestisida racun kontak dan lambung sebaliknya tidak disemprotkan pada saat cuaca mendung (akan hujan). Efektivitas pestisida jenis ini akan sangat menurun jika sebelum 8 jam setelah penyemprotan terguyur hujan. Berbeda halnya dengan pestisida racun sistemik yang harus berada di daerah perakaran untuk dapat diserap akar. Pada saat angin kencang, sebaiknya penyemprotan dihentikan karena banyak butiran semprot akan terbang terbawah angin sehingga hasil yang optimal sulit didapatkan. Suhu udara yang terlalu tinggi akan menyebabkan fitotoksisitas pestisida meningkat, sehingga dapat merusak tanaman.

c.       Waktu penyemprotan

Secara umum, disarankan waktu yang baik untuk menyemprot pestisida adalah pagi hari (jam 07.00-10.00)  dan pada sore hari (jam 15.00-18.00).


***


Lima
PEMAKAIAN INSEKTISIDA,
FUNGISIDA, HERBISIDA, DAN
SURFAKTAN


A.   Pemakaian insektisida
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya pestisida pesistensi tinggi, maka jenis bahan aktif yang memiliki persistensi tinggi saat ini telah diganti dengan jenis bahan aktif yang memiliki persistensi rendah. Dulu, bahan aktif arsenical banyak digunakan sebagai racun lambung untuk serangga penggerek selama lebih dari 40 tahun, sedangkan bahan aktif chlordane, aldrin, dieldrin, dan DDT telah digunakan sejak tahun 1950 hingga 1970. Jenis bahan aktif tersebut memiliki persistensi sampai 10 tahun ini, akhisrnya dilarang beredar dan diganti dengan jenis yang memiliki persistensi lebih rendah, sehingga efek pencemaran lingkungan dan bahaya keracunan lebih kecil.
Bahan aktif dari golongan organofosfat dan karbamat selain memiliki persistensi lebih rendah, efektif untuk mengendalikan hama tanah (soil borne) dan hama daun. Waktu aplikasi untuk pestisida dengan persistensi adalah faktor yang sangat menentukan. Persistensi yang rendah berarti waktu yang efektif dari residu pestisida untuk menjadi racun untuk hama pengganggu lebih sempit, sehingga harus disemprotkan sedekat mungkin dengan saat hama melakukan aktivitas terbanyak.
Telah dikemukakan bahwa pengetahuan tentang siklus hidup OPT, dalam hal ini serangga, sangat mentukan efektifitas pengendalianhama. Perkembangan hama umumnya melalui tahap yang disebut metamofosis, yaitu perubahan telur, larva (umumnya berbentuk ulat), kepompong, dan serangga dewasa.
Perlu diperhatikan adalah pada tahap metamorfosis saat serangga tersebut menjadi perusak tanaman. Aktivitas terbesar larva yang berbentuk ulat adalah makan untuk mengumpulkan energi yang diperlukan peda saat menjadi kepompong, sehingga tahap ini umumnya menjadi hama bagi tanaman. Beberapa jenis serangga dewasa tidak memerlukan makanan tugasnya hanyalah kawin, bertelur, dan kemudian mati, tetapi tidak sedikit pula serangga dewasa yang menjadi pengganggu tanaman. Secara umum, pengendalian serangga pada tahap larva lebih disarankan, karena lebih mdah dilakukan dan lebih berhasil guna.
Cara serngga mersak tanaman juga harus dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan pertisida. Berdasarkan caranya merusak tanaman, serangga dapat dikelompokkan mdenjadi 2 golonga. Pdertama, serangga pemotong atau penggerek yang dapat merusak bagian atas (tajuk) dan akar tanaman, seperti ulat grayak, wereng, dan belalang. Kedua, serangga pengisap cairan tubuh tanaman yang biasanya merusak daun dan buah, sepeti aphid, wereng, kutu daun, dan tiungau atau thrips.
Tabel 7. Sifat beberapa bahan aktif insektisida
Bahan aktif
Sifat Bahan aktif
Contoh Merek Dagang
Diazinon
Berspektrum luas, merupakan racun moderat dari golongan organofosfat, nonsistemik, tingkat residu moderat
Dizinon 60 EC,    Diazionon 10 G,     Neocidol 40 WP
Klorfirifos
Berspektrum luas, racun moderat dari golongan organofosfat residu moderat
Dursban 20 EC,       Lantek 400 EC
Karbaril
Daya racun rendah, selektif dan residu moderat Indovin 85 SP, Petrovin 85 WP

Acphat
Sistemik, daya racun rendah, residu moderat
Orthane 75 SP

Untuk mengendalian serangga pemotong yng memakan bagian tanaman dapat digunakan insektisida racun lambung, kontak, dan racun sistemik dengan menyemprotkan merata keseluruh permukaan tajuk tanaman. Racun kontak paling efektif untuk membasmi serangga yang masih dalam tahap larva (ulat), dapatdisemprotkan pada sore hari dengan syarat residu pestisida harus melekat secara merata untuk beberapa waktu. Perlu diperhatikan, minimum 8 jam setelah penemprotan, tidak boleh terkena hujan. Diharapkan pada saat larva beraktiviatas pada  malam hari, akan menyentuh residu pestisida yang baru disemprotkan dan bisa mati.
Seranggga yang sering terbang dapat dikendalikan  dengan racun pernapasan, racun lambung, atau racun sistemik. Sedangkan insektisida racun kontak kurang efektif untuk mengendalikan serangga jenis ini. Serangga penggerek batang yang bersembunyi didalam batang, seperti penggerek batang padi, dapat dikendalikan dengan insektisida sistemikyang disemprotkan atau dengan formula granular. Insektisida granular dapat ditebarkan pada hamparan tanaman padi, dengan harapan butiran insektisida akan tersangkut pada pelepah daun padi dan terserap masuk kedalam tubuh tanaman, sebagian lagi akan jatuh ke tanah dan terserap melalui akar. Pada tanaman jagung byang mulai berbunga , biasanya insektisida granular ditempatkan lebih kurang 1 sendik tah pada ketiak daun untuk mencegah serangan ulat grayak (Spodoptera litura sp) dan Heliothis sp.
Untuk serangga penghisap cairan yang ada didaun atau buah juga dapat digunakan racun sistemik selain jenis racun yang lain. Serangga perusak akar tanaman hanya efektif dikendalikan dengan menggunakan racun sistemik. Untuk mengoptimalisasikan penyerapan insektisida sistemik, maka penyemprotan dilakukan pada pagi hari pada saat stomata terbuka. Jika, pada prinsipnya jenis insektisida yang dipilih dan cara aplikasinya harus disesuaikan dengan jenis dan karakter serangga yang ingin dikendalikan.
B. penggunakan pestisida
Fungi atau jamur merupakan penyebab penyakit infeksi yang utama pada tanaman. Jamur adalah organisme tingkat rendah yang tidak mdemiliki klorofil, sehingga tidak dapat mengolah mdekanan sendiri. Karena itu jamur memperoleh makanan dan energi dari sumber lain, seperti dengan melakukan penetrasi ke dalam jaringan sel tumbuhan kemudian menyerap makanan. Tipe jamur ini disebut sebagai jamur parasit. Jenis jamur yang lain adalah saprofit yang memperoleh energi dari proses pembusukan dan penguraian bahan organik.
Jamur yang hidup sebagai perasit merupakan jamur penyebab penyakit tanaman. Meskipun demikian, di antara jamur saprofit pun dapat menjadi parasit jika faktor lingkungan menguntungkan untuk menginfeksi jaringan tanaman. Contohnya adalah Fusarium, Pythium, dan Rhizoctania. Karenanya, untuk memilih cara pengendaliaanya juga diperlukan pengetahuan mengenai siklus hidup jamur dan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan jamur menginfeksi jaringan tanaman. Jamur akan tumbuh subur pada lingkungan yang lembab dan hangat.
Beberapa jenis jamur juga bisa dibawah oleh serangga, atau jamur menginfeksi tanaman setelah jaringan tanaman terluka oleh gigitan serangga. Dengan demikian, pengendalian serangan serangga juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengendalian jamur. Pada penerapan konsep PHT, pengendalian jamur juga menekan cara-cara non-pestisida, yaitu cara-cara yang menciptakan kondisi menguntungkan perkembangan tanaman dan tidak menguntungkan bagi perkembang-biakan jamur. Contohnya membuat drainase, aerasi tanah, sirkulasi udara yang bai, serta pemupukan nitrogen yang berimbang. PHT lebilh memprioritaskan pada pembentukan tanaman yang sehat dan subur, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap lserangan jamur.
Fungisida digunakan jilka usaha0usaha lain telah diaksanakan secara maksimal. Sebagai tindakan preventif, fungisida dapat diaplikasikan sebelum terajadi serangan jamur, yaitu di saat kondisi lingkungan sangat kelembapan  udara yang tinggi. Tindakan preventif bertujuan mencegah penetrasr jamur ke dalam jaringan tanaman. Fungisida yang disemprotkan untuk tindakan preventif biasanya memiliki spektrum pengendalian yang luas dengan menggunakan dosis dan konsentrasi yang rendah. Sebagai tindakan prevetif dapat juga digunakan jenis fungisida yang bersifat fungistatik untuk menghambat tumbuhnya spora yang jatuh dipermukaan tanaman. Aplikasi fungisida yanga bersifat preventif dilakukan dengan menyemprotkan pada seluruh daerah penanaman.
Tabel 9. Sifat beberapa golongan dari bahan aktif fungisida
Golongan
Sifat
Bahan Aktif
Merek dagang
Benzimidazoles 

Nitril

Phenilamid

Carbamat
Sistemik, menghambat pembelahan sel
Cepat menguap, menganggu fungsi sel
Sistemik, menghambat sintesis RNA
Kontak, spektrum luas, menghambat respirasi
Benomil

Cholorothalonil

Metelaxiyl

Thiram          Maneb      Mancozeb 
Propamocarb
Benlate

Daconil

Ridomild Gold

Rootone F Phycozan,      Trineb        Dithane,     Manzate      Previcur N

Disamping itu, dapat dilakukan tindakan penyembuhan (kuratif) setelah terlihat gejala serangan jamur diatas ambang ekonomi. Pada tindakan kuratif biasanyan digunakan fungisida berspektrum lebih sempit yang hanya ditujukan untuk jenis jamur  yang telah menyerang tanaman dengan konsentrasi dan dosis lebih tinggi. Tindakan kuratif bisa lebih murah, karena pada tahap awal serangan fungi hanya terjadi pada tempat-tempat tertentu (tidak menyerang seluruh tanaman), sehingga dapat dilakukan penyemprotan hanya pada tempat yang terserang (spot application). Tindakan kuratif umumnya lebih dulu disarankan karena lebih efektif.
Fungisida yang bersifat racun kontak cocok untuk mengendalikan jamur yang muncul dipermukaan tanaman, seperti jamur karat daun. Fungisida ini harus tercampur merata dengan air yang cukup, disemprotkan dengan alat semprot bertekanan memadai untuk menghasilkan kabut yang dapat membasahi dan menyelimuti seluruh bagian tanaman yang terkena penyakit secara meata. Hasil semprot harus tetap berada di permukaan tanaman hingga waktu tertentu, sehingga penyiraman tajuk harus dihindari.
Fungisida racun sistemik digunakan untuk mengendalikan jamur yang terdapat di bagian dalam tanaman, seperti jamur upas di dalam batang apel. Racun sistemik juga dapat disemprotkan seperti racun kontak, tetapi tujuannya adalah penyerapan fungisida oleh stomata yang terdapat pada daun. Karena itu, penyemprotan fungisida sistemik harus  dilakukan pada saat stomata terbuka maksimum, yaitu pagi hari. Penyemprotan harus mengutamakan daun bagian bawah, karena pada bagian ini paling banyak terdapat stomata. Selain itu, fungisida sistemik dapat disiramkan pada pangkal batang agar diserap akar untuk mencegah jamur yang berkembang pada jaringan epidermis tanaman, seperti yang dilakukan pada pengendalian cendawan akar putih pada tanaman karet.
Penggunaan satu jenis fungisida pada kurun waktu panjang harus dihindari. Seperti yang terjadi pada serangga, jamur pun bisa kebal terhadap satu jenis bahan aktif fungisida melalui serangkaian proses perubahan genetik. Di  Amerika pada tahun 1973 telah dilaporkan bahwa jamur Sclerotina sp kebal terhadap fungisida berbahan aktif Benzimidazoles dan pada tahun 1980 dilaporkan bahwa jamur Fusarium spp menjadi tahan terhadap penyemprotan fungisida berbahan aktif Benomil.
Tabel 10. Cara kerja racun dan contoh bahan aktif fungisida
Jenis Fungisida
Contoh bahan aktif
Sistemik

Kontak
Spektrum luas
Spektrum sempit
Triadimenol, triadimefon, benomil, mankozeb,
 dimetomorf, Pirazofos, Alumunium fosetil, karbendazim
Asama fosfit, klorotanil, Folpet, Bitertanol, Tembaga hidroksida
Mankozeb, Metil tiofanat, difenokonazol, karbendazim, klorotalonil
Maneb, triflumozol, proklaraz, PCNB, Metalaksil

C.   Penggunaan herbisida
Untuk keperluan  pengendaliannya, gulma dibedakan menjadi 3 golongan. Pertama, gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena adorata, Mikania sp. Kedua, gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum, Panicum repens. Ketiga, golongan teki, seprti Cyperus rotundus, Ciperus kilinga.
Herbisida purna-tumbuh (post emergence) yang bersifat selektif dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, golongan teki, dan beberapa jenis rumput. Keunggulan herbisida selektif ini adalah tidak membahayakan beberapa jenis tanaman pokok yang disarankan pada labelnya. Jadi, dengan menggunakan herbisida purna tumbuh yang selektif kita dapat mematikan gulma tanpa harus khawtir tanaman pokok rusak akibat terkena semprotan herbisida. Meskipun demian, tentunya penggunaan herbisida ini harus sesuai dengan petunjuk yang ada pada labelnya. Contuh herbisida selektif adalah  DMA 6, Saturn, Akotrin, Agroxone.
Gulma yang tidak dapat dibasmi dengan herbisida selektif dapat dikendalikan dengan herbisida purna tumbuh yang berspektrum luas dan mempu membunuh hampir semua tumbuhan. Jika menggunakan herbisida ini di antara tanaman pokok yang telah tumbuh, penyemprotanya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena kabut semprotnya dapat mematikan tanaman utama. Kabut semprot yang terbang terbawah angin (drift) adalah faktor utama yang harus diperhatikan dalam menggunakan herbisida ini. Herbisida berspektrum luas biasanya digunakan untuk membunuh gulma yang sulit dikendalikan, seperti alang-alang. Contohnya adalah Round Up, Basmilang, dan Knock Down.
Herbisida purna tumbuh memiliki dua cara kerja yang berbeda. Pertama, herbisida komtak yang hanya mematikan bagiam gulma yang terkena semprot. Biasanya efektif untuk mengendalikan gulma berdaun lebar atau gulma semusim yang tidak memiliki organ perkembang-biakan di bawah permukaan tanah. Herbisida ini harus disemprotkan secara merata pada seluruh bagian gulma. Herbisida komtak hanya membutuhkan waktu singkat untuk mematikan gulma. Pengaruhnya dapat terlihat dalam waktu satu atau dua hari  saja. Herbisida kontak tidak akan efektif pada musim hujan, karena turunnya hujan setelah penyemprotan akan mencuci racun yang melekat pada  permukaan daun.
Cara kerja yang Kedua adalah herbisida sistemik. Racun dari herbisida sistemik akan masuk kedalam jaringan tanaman melalui daun gelma dan di translokasikan sampai pada akar. Karenanya, herbisida sistemik sangat efektif untuk mengendalikan gulma yang memiliki rhizoma atau stolon, seperti alang-alang  dan teki. Karena herbisida ini akan mematikan gulma sampai pada bagian yang terdapat di bawah tanah. Herbisida sistemik tersedia dalam formula granul (butiran) yang biasa dipakai pada tanaman padi. Herbisida granular ini diaplikasikan dengan cara menebarkan secara merata kepermukaan sawah sebelum penanaman padi. Biasanya, herbisida ini bersifat selektif, sehingga tidak berbahaya untuk tanaman utama. Waktu yang dibutuhkan herbisida sistemik untuk mematikan gulma biasanya lebih lama, yaitu 1 – 2 minggu.
Pengolahan tanah atau pencabutan gulma setelah penyemprotan herbisida tidak disarankan, karena dapat mengurangi efektivitasnya. Pengolahan tanah akan memutuskan hubungan antara tajuk dan akar gulma, sehingga herbisida tidak dapat mencapai akar gulma. Jika pengolahan tanah dilakukan pada  saat herbisida sistemik belum sampai mematikan  rhizome  atau stolon, gulma baru akan segera tumbuh dari rhizoma dan stolon yang terputus tadi.
Aplikasi  herbisida pre-emergence atau pra-tumbuh bertujuan mematikan biji gulma yang ada di dalam tanah. Tetapi tidak berarti jika kabut semprotnya terkena pada tanaman yang telah tumbuh tidak berbahaya. Beberapa tanaman atau gulma yang  terkena semprot herbisida pra-tumbuh memperlihatkan  gejala daun yang layu, menguning, beberapa jenid tanaman atau gulma dapat tumbuh kembali ttetapi beberapa diantaranya bisa mati. Dengan demikian, jika ingin menyemprotkan herbisida pra-tumbuh di antara tanaman, faktor drift juga harus dipertimbangkan, tentunya penyemprotan harus dihentikan jika terjadi angin kencang.
Aplikasi herbisida pre-emergence memang sangat berbeda dengan cara aplikasi pestisdia  lain. Tahap aplikasinya sebagai berikut.
1.      Herbisida purna-tumbuh biasanya disemprotkan paling sedikit 2 minggu sebelum benih ditanam, setelah pengolahan tanah dan pembersihan gulma secara mekanis selesai dikerjakan. Herbisida yan telah dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi yang tepat, disemprotkan secara merata ke atas permukaan tanah.
2.      Penyemprotan dilakukan dengan berjalan mundur. Dosis larutan per hektar yang tertera pada label herbisida harus diikuti dengan tepat. Karenanya, sebelum penyemprotan, alat semprot sebaiknya telah dikalibrasi.
3.      Sedapat mungkin hindari adanya daerah yang tidak terkena semprot karena biji gulma masih bisa tumbuh. Untuk menghindari daeerah yang tidak terkena semprot, sebaiknya batas antara daerah yang telah dan belum  disemprot diberi tanda.
4.      Tanah yang telah disemprot tidak boleh diinjak atau diolah lagi sampai saat  menanam benih. Hasil penyemprotan herbisida ini akan membentuk selalput tipis (lapisan film) di atas permukaan tanah yang akan mematikan setiap kecambah gulma. Mengolah tanah akan merusak lapisan film yan telah menutupi permukaan tanah, sehingga biji gulma dapat tumbuh kembali.
5.      Setelah tanaman utama tumbuh dengan baik dan telah memiliki tinggi yang cukup aman (biasanya setelah 6 – 8 minggu), penyemprotan kedua dapat dilakukan.
6.      Herbisida pra-tumbuh ini biasanya tidak efektif untuk menekan pertumbuhan gulma  yang berasal dari rhizoma atau  stolon.
Tabel 11. Cara kerja racun dan contoh bahan aktif  herbisida
Janis  Herbisida
Contoh bahan aktif
Purna tumbuh – Sistemik – Selektif

Purna tumbuh – Kontak – Selektif
Purna dan Pra-tumbuh – Sistemik – Selektif

Purna dan Pra-tumbuh – Sistemik – Spektrum luas
Purna tumbuh – Kontak – Spektrum luas
Purna tumbuh – Sistemik – Spektrum luas
Pra-tumbuh
2,4 D, Dikamba, Imazapik,
Imazakuin, Kalium MCPA
Oksifluorfen
Ametrin, Atrazin, Etil karfentrazan,
Diuron, Metilmetsulfuron
Sulfosat
Bentazon
Glifosat, Amonium glufosinat
Etil pirazosulfuron, Klomazen, Simazin, Flufenaset, Oksadiazon

D.   Pemakaian Surfaktan
Telah dikemukakan bahwa efektifitas pestisida bisa tercapai jika kabut hasil penyemprotan menutup rapat seluruh tajuk tanaman dan residunya bertahan didaun untuk waktu tertetu. Namun, hal ini sukar dicapai, karena umumnya permukaan daun memiliki lapisan lilin atau ditutupi bulu-bulu halus, yang menyebakan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Lapisan lilin menyebakan kabut semprot  yang jatuh kedaun membentuk butiran yang lebih besar dan menggelinding jatuh ke permukaan tanah (ingat fenomena air di atas daun talas). Sedangkan turunya hujan setelah penyemprotan menyebabkan pestisida yang telah disemprotkan akan tercuci sehingga residunya tidak tinggal lebih lama dipermukaan daun. Dua kendala tersebut sering menyebabkan pemakaian pestisida menggunakan dosis lebih tinggi atau melakukan penyemprotan lebih sering, sehingga jumlah pestisida yang digunakan lebih besar. Hal ini, selain meningkatkan biaya produksi akan meningkatkan pencemaran lingkungan.
Surfaktan, ataub sering disebut bahan perata, bahan perekat, spraying ajuvant, sticker, atau wetting agent dapat membantu meminimalisasi masalah do atas. Pemakaian sangat disarankan untuk usaha pertanian yang berorientasi pada keuntungan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pertisida. Surfaktan menurunkan  tegangan permukann air, sehingga kabur semprot yang jatuh kedaun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar keseluruh permukaan daun. Selain itu, surfaktan berfungsi sebagai lperekat yang menyebabkan pestisida bertahan lebih lama di permukaan daun dan tidak medah tercuci oleh hujan. Dengan pemakaian surfaktan, konsentrasi dan dosis pertisida yang digunakan dapat dikurangi dan frekuensi penyemprotan dapat diperjarang.
Penambahan surfaktan dilakukan  setelah pestisida dan air dicampurkan  di dalam tangki alat semprot dengan jumlah yang sesuai dengan anjuran. Jangan memasukan surfaktan ke dalam tangki alat semprot sebelum air diisi, karena ketika diisi air, akan terbentuk busa. Konsentrasi pencampuran setiap merek dagang  surfaktan bisa berbeda-beda. Karena itu, bacalah anjuran pemakaian surfaktan yang tertera pada kemasan sebelum menggunakannya.
Tabel 12. Beberapa contoh merek dagang dan bahan aktif surfaktan
Merek Dagang
Bahan Aktif
Sandovit
Agristick
Tenac sticker
Agral 900
Citowet
Ingrostick
Alkilaril poliglikol eter 958 g/l
Alkilaril poliglikol eter 400 ml/l
Fiona  78/81/HVI 650 80%
Kondensat monil fenol etilen oksida 920 g/l
Alkilaril poliglikol eter 1050 g/l
Alkil orefin aromatik polimer  45%


***********************************